Wednesday, July 20, 2016

Ayam Goreng Saya Dimakan Siapa?

Ini adalah kejadian yang pernah saya alami beberapa tahun silam.

Seporsi nasi dan ayam goreng hangat tampak lezat di hadapan saya. Malam itu saya ingin merayakan datangnya weekend dengan menikmati fast food.

Thanks God it's Friday! Selamat makan!

Sambil makan, saya mengeluarkan handphone dari saku dan melihat-lihat timeline Facebook. Membaca-baca status teman-teman FB, mata saya nyangkut di salah satu postingan. Ada teman FB menulis status yang mengolok-olok seorang tokoh karena kesalahan yang dibuatnya. Menurut saya sang tokoh tidak layak dihinakan seperti itu, karena selama ini ia dikenal sebagai orang yang baik, namun yang namanya manusia bisa tergelincir berbuat salah.

Wah.. enggak benar ini.. batin saya. Saya pun terjun buat menulis komentar. Selain saya, ada juga teman-teman yang sependapat dengan saya bahwa status FB itu sudah kelewat batas. Maka saling berbalas komentar pedas pun tak terhindarkan.


Waktu berlalu, kalimat demi kalimat telah tertumpah dalam bentuk ketikan penuh emosi. Saya tenggelam dalam perdebatan hingga.. saya mendapati ayam goreng saya sudah habis.

Eh?? Habis??

Ayam goreng itu tahu-tahu sudah saya habiskan tanpa terasa kenikmatannya. Padahal saya sudah menanti-nantikan momen itu sejak beberapa hari yang lalu.

Saya menghentikan aktivitas perang komentar yang masih seru-serunya. Memikirkan apa yang telah saya lakukan.

Ada rasa penyesalan. Bukan sekadar karena uang yang telah saya keluarkan jadi terasa sia-sia. Lebih dari itu, betapa mudahnya terpancing dan hanyut dalam perdebatan semacam itu sampai-sampai mengabaikan apa yang seharusnya bisa saya nikmati, perayaan weekend malam itu.

“Aku akan menjamin sebuah rumah di tepi surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan meskipun dia yang benar. Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan kedustaan walaupun dia sedang bergurau. Dan aku juga menjamin rumah di surga yang paling tinggi bagi siapa saja yang berakhlak baik.” (HR. Abu Daud no. 4800 dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1464).

Dari pengalaman itu saya belajar untuk lebih berhati-hati dalam menyikapi perdebatan di dunia maya.